Lahan Pekarangan: Lahan Kecil yang Kaya Potensi

LAHAN PEKARANGAN: LAHAN KECIL YANG KAYA POTENSI

Oleh : drh. M. Heidy Utama Putra Kusmawan, S.K.H

(Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Barat)

Seiring dengan perkembangan zaman, ketersediaan lahan pertanian menjadi
berkurang dengan bertambahnya jumlah penduduk dan terjadinya alih fungsi lahan
pertanian yang produktif kini menjadi area industri dan permukiman. Dengan semakin
menurunnya luas lahan pertanian, pekarangan menjadi salah satu solusi penggunaan
lahan pertanian dalam mewujudkan terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat pada
saat sekarang dan yang akan datang. Pekarangan memiliki banyak fungsi seperti fungsi
sosial, estetika, produksi, dan fungsi ekonomi sumber daya. Hal ini menunjukkan bahwa
pekarangan merupakan bentuk pengoptimalisasian lahan yang penting bagi masyarakat
sehingga jika lahan pekarangan dapat dimanfaatkan dengan baik maka masyarakat akan
lebih mudah untuk mendapatkan pangan keluarga hingga memungkinkan menambah
pendapatan rumah tangga (Yulidar, 2013).


Pemanfaatan lahan pekarangan yang baik dapat mendatangkan berbagai manfaat
antara lain yaitu sebagai:
a. Pemenuhan gizi keluarga: beberapa tanaman, ternak dan ikan dapat dipelihara di
pekarangan dan menghasilkan makanan yang dibutuhkan keluarga. Seperti sayur dan
buah sebagai sumber vitamin, sedangkan ternak dan ikan sebagai sumber protein dan
lemak.
b. Sebagai lumbung hidup: hasil dari usaha pekarangan dapat diambil sewaktu-waktu dan
tidak ada musim pacekliknya.
c. Apotik hidup: pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman obat yang berkhasiat, jika
anggota keluarga sewaktu-waktu sakit dapat ditanggulangi sementara dengan obat
yang ada di pekarangan.
d. Menambah penghasilan: pekarangan yang dikelola dengan baik, hasilnya dapat dijual
sebagai sumber pendapatan keluarga karena banyak komoditas yang tidak
membutuhkan lahan yang luas untuk membudidayakannya. Dari hasil penelitian,
secara umum pekarangan rumah dapat memberikan sumbangan pendapatan keluarga
antara 7-45%.
e. Menghasilkan bahan bangunan: jenis tanaman pohon seperti bambu, kelapa, nangka
dan tanaman lainnya yang ditanam di pekarangan dapat dijadikan bahan bangunan dan
kerajinan rumah tangga.
f. Sebagai tempat rekreasi keluarga: pekarangan yang ditata dan dirawat secara teratur
akan memberikan keindahan dan rasa tentram bagi orang yang melihatnya.


Pola pertanian di lahan pekarangan umumnya berupa campuran (multikomoditas)
karena biasanya masyarakat menanam berbagai macam komoditas, baik berupa tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, hingga ternak. Komoditas yang diusahakan pada
pertanian pekarangan sebaiknya disesuaikan dengan komoditi unggulan daerah yang
bersangkutan, peluang pasar, serta nilai guna komoditi, seperti:
a. Sayuran dan buah:
• Sayuran buah seperti cabai besar, cabai rawit, tomat, terung, mentimun dan gambas
• Sayuran daun seperti kangkung, bayam, kemangi, seledri, selada, dan sawi
• Sayuran bunga seperti kol, brokoli dan bunga pepaya
• Sayuran umbi seperti wortel, kentang, bawang merah, bawang putih, dan bawang
bombay, serta tanaman bumbu dan empon-emponan seperti temu kunci, kencur,
serai, lengkuas dan kunyit yang masih termasuk tanaman sayuran umbi-umbian
• Tanaman buah, obat-obatan, tanaman hias.
b. Ternak: ternak unggas hias, ternak petelur, ternak pendaging.
c. Ikan: ikan hias, ikan produksi daging, pembenihan dan lain-lain.


Selain itu, pada pertanian lahan pekarangan perlu mempertimbangkan pola tanam
dan tata letak suatu dari komoditasnya. Hal ini sangat penting dilakukan agar terjadi
optimalisasi lahan pekarangan yang terbatas sesuai dengan kondisi pekarangan (Ashari,
dkk. 2012). Hal-hal yang perlu diperhatikan agar tanaman dapat terpenuhi kebutuhannya
baik dari segi paparan sinar matahari dan juga mempertimbangkan aspek keamanan dan
estetika adalah sebagai berikut (Sismihardjo, 2008).
a. Tanaman sisi rumah; pemilihan jenis tanaman yang disarankan yaitu jenis tanaman
sayur-sayuran, obat-obatan, dan rempah diusahakan menghindari tanaman yang
berakar dalam karena dapat merusak pondasi rumah. Pohon yang besar hanya
disarankan untuk pekarangan yang luas yang memiliki jarak antar pondasi rumah dan
daerah tanam.
b. Tanaman belakang rumah; jenis tanaman yang dapat ditanam area belakang rumah
jika ada, memilih pohon yang agak tinggi untuk memberikan sirkulasi udara yang
lebih sejuk yang masuk ke dalam rumah.
c. Tanaman pagar; fungsi dari tanaman ini sebagai tanaman pembatas dalam suatu
pekarangan. Tanaman yang digunakan sebagai pembatas ini utamanya yang memiliki
percabangan yang banyak kuat dan lebat, cepat tumbuh, tahan pangkas dan
bermanfaaat banyak.
Potensi lahan pekarangan pada dasarnya sangat besar, karena dapat menjamin
kebutuhan pangan keluarga sehingga dapat menghemat pengeluaran dan apabila
dioptimalkan dengan baik dapat menjadi sumber penghasilan lain bagi rumah tangga.


Referensi
Ashari, dkk. 2012. Proteksi dan Prospek Pemanfaatan Lahan Pekarangan Untuk
Mendukung ketahanan Pangan. Bogor: Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan
Pertanian.
Sismihardjo 2008, ‘Kajian agronomis tanaman buah dan sayuran pada struktur
agroforestri pekarangan di wilayah Bogor, Puncak dan Cianjur (Studi kasus di DAS
Ciliwung dan DAS Cianjur)’, Tesis, Program Studi Agronomi, Sekolah
Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Yulida, R., 2013. Kontribusi Usahatani Lahan Pekarangan Terhadap Ekonomi Rumah
Tangga Petani di Kecamatan Kerinci Kabupaten Pelalawan. IJAE (Jurnal Ilmu
Ekonomi Pertanian Indonesia), 3(2), pp.135-154.

Lampiran
1 Lahan Pekarangan Tidak bisa preview (Download)