Perkuat Hilirisasi Pertanian, Bapeltan Jambi Gelar BOC Vol. 340 Emas Hijau Sejuta Manfaat: Pengelolaan Limbah Menjadi Cuan
Sebagai upaya mempercepat hilirisasi pertanian dan mendorong peningkatan nilai tambah komoditas lokal, Balai Pelatihan Pertanian Jambi menjadi tuan rumah kegiatan BOC Vol. 340 Emas Hijau Sejuta Manfaat: “Pengelolaan Limbah Menjadi Cuan”.
Kegiatan ini dilaksanakan secara daring, disiarkan melalui live streaming YouTube, serta diikuti lebih dari 700 partisipan dari berbagai wilayah di Indonesia melalui Zoom. Antusiasme peserta yang tinggi mencerminkan besarnya perhatian terhadap hilirisasi, khususnya pada komoditas kelapa, sebagai strategi mengubah limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Pelatihan Pertanian Jambi, Sugeng Mulyono dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi aktif. Kegiatan BOC diharapkan menjadi wadah berbagi informasi, inspirasi, dan motivasi bagi petani, penyuluh, serta generasi muda pertanian dari Sabang sampai Merauke.
Lebih lanjut disampaikan bahwa hilirisasi komoditas perkebunan, khususnya kelapa, merupakan salah satu program strategis Kementerian Pertanian ke depan. Kelapa yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah, seperti nata de coco, cocopeat, dan produk olahan lainnya. Pengembangan kelapa tidak hanya berfokus pada budidaya, tetapi juga pada pengurangan limbah dan peningkatan nilai ekonomi guna mendorong kesejahteraan petani dan pelaku usaha.
Kepala Balai juga mengajak seluruh pemangku kepentingan—petani, penyuluh, generasi muda, serta unsur pendukung seperti TNI dan Polri—untuk terus berkolaborasi dalam menyukseskan program hilirisasi perkebunan dan penguatan ketahanan pangan, serta menegaskan bahwa profesi petani adalah profesi yang keren dan menjanjikan bagi generasi muda.
Dalam sesi pemaparan materi, Lukas Cholikul Rahman, petani milenial asal Tanjung Jabung Barat, menjelaskan bahwa hilirisasi kelapa melalui pengolahan sabut kelapa merupakan peluang usaha yang sangat menjanjikan. Sabut kelapa yang sebelumnya dianggap limbah kini memiliki nilai ekonomi tinggi seiring meningkatnya permintaan pasar, termasuk dari luar negeri seperti Malaysia dan Thailand. Kondisi ini menunjukkan besarnya potensi kelapa Indonesia untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.
Salah satu produk hasil hilirisasi tersebut adalah cocopeat, media tanam ramah lingkungan pengganti gambut. Cocopeat memiliki kemampuan menyerap air dengan baik, mempercepat pertumbuhan tanaman, serta membantu mengurangi serangan penyakit. Dengan dukungan teknologi sederhana dan manajemen produksi yang efisien, pengolahan sabut kelapa menjadi cocopeat terbukti mampu menghasilkan keuntungan sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan karena memanfaatkan limbah pertanian secara optimal.
Selain pengolahan cocopeat, peserta juga mendapatkan inspirasi dari Yustina Purwarini, Ketua UMKM Kama Coco Lestari, yang mengembangkan berbagai produk kerajinan berbahan sabut kelapa seperti sapu, keset, pot bunga, dan produk kreatif lainnya. Ia menyampaikan bahwa hilirisasi sabut kelapa tidak hanya berhenti pada produk setengah jadi, tetapi dapat dikembangkan hingga produk akhir bernilai tambah tinggi yang mampu membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal.
Melalui penyelenggaraan BOC Vol. 340 ini, Bapeltan Jambi menegaskan komitmennya dalam mendukung hilirisasi pertanian sebagai kunci peningkatan daya saing, keberlanjutan, dan kesejahteraan petani. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta menginspirasi petani dan generasi muda untuk mengolah potensi lokal dan limbah pertanian menjadi peluang usaha yang nyata dan berkelanjutan.