Kopi Naik Kelas Lewat Hilirisasi: BOC VOL. 330, Bapeltan Jambi Dorong Petani Menuju Pasar Ekspor
Muaro Jambi— Hilirisasi komoditas perkebunan, terutama kopi, semakin diposisikan sebagai kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani. Dengan mengubah produk mentah menjadi olahan bernilai tinggi, rantai nilai pertanian tidak hanya memperbesar pendapatan petani tetapi juga membuka akses pasar ekspor yang lebih luas.
Tekad inilah yang menjadi landasan penyelenggaraan Bertani On Cloud (BOC) VOL. 330 yang kembali digelar oleh Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi dengan tema “Hilirisasi Kopi, Ciptakan Nilai Tambah bagi Petani.”
Acara yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Bapeltan Jambi ini diikuti lebih dari 600 peserta melalui Zoom Meeting, menghadirkan wadah pembelajaran yang luas dan mudah diakses oleh pelaku utama maupun pelaku pendukung pertanian.
Dalam sambutannya, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (Kapuslatan), Dr. Tedy Dirhamsyah, S.P., M.A.B., menekankan betapa besar potensi hilirisasi untuk mengangkat nilai ekonomi kopi. Kapuslatan mengingatkan pengalaman mendampingi petani di Pangalengan dan Puntang, Jawa Barat, di mana green bean banyak dijual di kisaran Rp30.000–80.000/kg — bahkan sering di bawah Rp40.000/kg — namun setelah proses roasting harga dapat melesat hingga Rp200.000–300.000 per 100 gram.
Ia juga menyinggung contoh teknologi pascapanen seperti Kopi Binturong yang mampu mencapai harga premium di marketplace, sebagai bukti nyata bahwa hilirisasi dapat mengubah nasib komoditas dan pelakunya.
Kapuslatan menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar program ekonomi lokal, tetapi bagian dari prioritas pembangunan nasional untuk menciptakan nilai tambah pada produk pertanian.
Ia menyambut hadirnya dua narasumber praktisi: Moch. Charis, ST (Manager Koperasi BQ Baburrayyan, Aceh Tengah) yang berbagi praktik pascapanen kopi Gayo; serta H. Gunaryadi, SP (ICN Kerinci, Indonesia Coffee Nature) yang menampilkan berbagai inovasi produk turunan kopi.
Pada sesi materi, Moch. Charis, ST memaparkan proses produksi kopi Arabika Gayo dari panen hingga ekspor. Charis menekankan bahwa kualitas kopi sangat ditentukan oleh tahapan hulu—sekitar 60% berasal dari budidaya dan pengelolaan di kebun, 30% dari metode sangrai, dan 10% dari teknik penyeduhan.
Ia menguraikan pentingnya panen selektif dengan metode petik merah, variasi metode pengolahan (semi-wash, full-wash, honey, natural) dan alasan mengapa semi-wash banyak dipilih untuk pasar ekspor.
Selain itu Charis menekankan perlunya fermentasi yang tepat, penjemuran higienis, pengendalian kadar air 12–13% sesuai standar ekspor, serta penggunaan sortasi manual dan mesin color sorter untuk menjaga konsistensi mutu sebelum pengiriman.
Sementara itu, H. Gunaryadi, SP dari Kerinci memaparkan strategi hilirisasi berbasis ekonomi sirkular yang mengubah biji kopi dan limbahnya menjadi produk bernilai tinggi. Gunaryadi mencontohkan produk-produknya—kopi bubuk, parfum kopi (mobil & ruangan), kopi rasa jahe dan kayu manis, lilin aromaterapi, briket karbon penyerap racun udara, serta kompos dari limbah—yang memaksimalkan penggunaan bahan baku tanpa menghasilkan limbah.
Ia memaparkan model usaha praktis: dari 1 kg green bean dapat dihasilkan sekitar 26 bungkus produk parfum (30 g) sehingga potensi pendapatan per kg jauh melebihi harga komoditas mentah. Gunaryadi juga menyoroti pentingnya standarisasi kebersihan, sertifikasi organik, pengemasan dan branding untuk menembus pasar, serta hambatan seperti ketersediaan standar SNI untuk produk inovatif dan akses pembiayaan.
BOC VOL. 330 ditutup secara resmi oleh Kepala Balai Pelatihan Pertanian Jambi, Sugeng Mulyono, S.TP., M.P., yang menyampaikan apresiasi kepada narasumber dan seluruh peserta. Sugeng menegaskan komitmen Bapeltan Jambi untuk terus mendukung pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan—termasuk kopi dan kelapa—di wilayah kerja enam provinsi.
Ia berharap kolaborasi antara Bapeltan, petani, koperasi, dan pemangku kepentingan daerah terus diperkuat sehingga ilmu dan inovasi yang dibagikan menjadi terapan nyata di lapangan dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.
Ia memaparkan model usaha praktis: dari 1 kg green bean dapat dihasilkan sekitar 26 bungkus produk parfum (30 g) sehingga potensi pendapatan per kg jauh melebihi harga komoditas mentah. Gunaryadi juga menyoroti pentingnya standarisasi kebersihan, sertifikasi organik, pengemasan dan branding untuk menembus pasar, serta hambatan seperti ketersediaan standar SNI untuk produk inovatif dan akses pembiayaan.
BOC VOL. 330 ditutup secara resmi oleh Kepala Balai Pelatihan Pertanian Jambi, Sugeng Mulyono, S.TP., M.P., yang menyampaikan apresiasi kepada narasumber dan seluruh peserta. Sugeng menegaskan komitmen Bapeltan Jambi untuk terus mendukung pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan—termasuk kopi dan kelapa—di wilayah kerja enam provinsi.
Ia berharap kolaborasi antara Bapeltan, petani, koperasi, dan pemangku kepentingan daerah terus diperkuat sehingga ilmu dan inovasi yang dibagikan menjadi terapan nyata di lapangan dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.