Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Bukan Sekadar Disiplin, Kepala BPPSDMP Dorong ASN Bapeltan Jambi Hasilkan Kinerja Nyata bagi Pertanian

10/10/2026 17:54:00 Admin4 Bapeltan Jambi 11

Membangun pertanian yang kuat tidak cukup hanya dengan program, anggaran, dan teknologi. Di balik keberhasilan pembangunan pertanian, terdapat faktor penting yang kerap menjadi penentu, yakni kualitas sumber daya manusia aparatur yang menjalankan kebijakan hingga ke tingkat lapangan.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, saat melakukan pembinaan pegawai Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi di Aula Sultan Thaha, Kamis (8/10/2026).

Di hadapan jajaran pegawai Bapeltan Jambi dan perwakilan penyuluh pertanian dari sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Jambi, Idha menegaskan bahwa aparatur sipil negara (ASN) tidak cukup hanya menjalankan rutinitas kedinasan. Setiap pegawai dituntut memiliki etos kerja, integritas, kedisiplinan, dan kompetensi yang mampu mendukung pencapaian tujuan organisasi.

Pesan tersebut menempatkan pembinaan pegawai bukan sekadar sebagai kegiatan formal kelembagaan, melainkan sebagai momentum untuk memperkuat hubungan antara tanggung jawab individu, kinerja organisasi, dan keberhasilan pembangunan pertanian.

BerAKHLAK Harus Terlihat dalam Kinerja

Penerapan nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi salah satu penekanan dalam pembinaan tersebut. Bagi Idha, nilai-nilai dasar ASN tidak boleh berhenti sebagai slogan atau sekadar tercantum dalam dokumen organisasi. Nilai tersebut harus tercermin dalam perilaku kerja sehari-hari, cara memberikan pelayanan, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diemban.

“Sebagai ASN, kita harus memiliki etos kerja yang baik, menjaga integritas, dan terus meningkatkan kompetensi. Nilai-nilai BerAKHLAK harus benar-benar diterapkan dalam keseharian, bukan hanya menjadi slogan,” pesan Idha.

Penekanan ini memperlihatkan bahwa kualitas aparatur tidak hanya diukur dari kehadiran, kepatuhan terhadap aturan, atau penyelesaian administrasi. Lebih jauh, profesionalisme ASN berkaitan dengan kemampuan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, memberikan pelayanan yang baik, dan memastikan bahwa tugas yang dilaksanakan memiliki manfaat bagi masyarakat.

Bagi Bapeltan Jambi sebagai unit pelaksana teknis di bidang pelatihan pertanian, tuntutan tersebut memiliki arti penting. Pelaksanaan tugas tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan pelatihan, tetapi juga dengan upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pertanian agar mampu menjawab kebutuhan pembangunan di lapangan.

Dengan demikian, penguatan etos kerja perlu berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi dan kemampuan aparatur dalam memahami kebutuhan pemangku kepentingan. Kinerja organisasi pada akhirnya tidak hanya tercermin dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari kualitas pelaksanaan dan manfaat yang dihasilkan. Dari Tugas Individu Menuju Keberhasilan Program Pertanian Dalam pembinaan tersebut, Idha juga mengingatkan pentingnya kontribusi setiap pegawai terhadap program-program Kementerian Pertanian sesuai tugas dan fungsi masing-masing.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian membutuhkan dukungan seluruh jajaran, baik di tingkat pusat maupun unit pelaksana teknis. Karena itu, setiap pegawai perlu memahami arah kebijakan kementerian dan menerjemahkannya ke dalam pelaksanaan tugas yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pesan ini menegaskan pentingnya keselarasan antara kebijakan di tingkat pusat dan pelaksanaan program di daerah. Program pembangunan pertanian tidak dapat hanya bergantung pada perencanaan dan arahan pimpinan. Implementasinya membutuhkan aparatur yang memahami tujuan program, mampu bekerja sesuai tanggung jawab, serta berkontribusi melalui hasil kerja yang terukur.

Dalam konteks tersebut, setiap unit kerja memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tidak terlepas dari sasaran organisasi. Demikian pula setiap pegawai perlu memahami keterkaitan antara pekerjaan sehari-hari dan tujuan pembangunan pertanian secara lebih luas.

Bagi Bapeltan Jambi, tantangannya adalah memastikan bahwa pelaksanaan fungsi pelatihan benar-benar mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian. Orientasi tersebut membutuhkan aparatur yang tidak hanya memahami prosedur kerja, tetapi juga mampu menempatkan kualitas pelayanan dan manfaat kegiatan sebagai bagian penting dari tanggung jawab profesional.