Tingginya Harga Pupuk Kimia, BPDP dan Bapeltan Jambi Latih 86 Pekebun Sawit Produksi Pupuk Organik Mandiri
Di tengah meningkatnya harga pupuk kimia dan kebutuhan efisiensi biaya produksi perkebunan kelapa sawit, Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Jambi menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Angkatan I, II, dan III pada 23–26 Juni 2026.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya strategi untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia perkebunan dalam menghadapi tantangan tinggi biaya sarana produksi.
Pelatihan yang diikuti sebanyak 86 pekebun sawit dari Kabupaten Batanghari dan Merangin tersebut dibuka secara resmi oleh Taufikurrahman, selaku Ketua Tim Kerja Pelatihan Bapeltan Jambi, mewakili Plt. Kepala Bapeltan Jambi, Saptorini.
Diawali dengan laporan Ketua Panitia, Sucipto, serta dihadiri oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi dan Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Batanghari, Henrizal.
Dalam berbagai hal, Taufikurrahman menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan profesionalisme pekebun dalam memproduksi serta mengaplikasikan pupuk organik secara tepat guna. Hal ini menjadi penting mengingat biaya pemupukan merupakan salah satu komponen terbesar dalam usaha budidaya kelapa sawit.
“Di tengah tingginya harga pupuk kimia dan dinamika harga tandan buah segar (TBS), petani perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya lokal menjadi pupuk organik yang berkualitas. Dengan demikian, biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas kebun tetap terjaga,” ujarnya.
Keunggulan pelatihan ini terletak pada sinergi antara Widyaiswara Bapeltan Jambi dan para praktisi lapangan yang berpengalaman dalam pengelolaan pupuk organik dan budidaya kelapa sawit. Kolaborasi antara tenaga pengajar dan praktisi tersebut memberikan keseimbangan antara penguasaan teori, inovasi teknologi, serta pengalaman aplikatif yang dapat langsung diterapkan oleh peserta di lapangan.
Ketua Panitia, Sucipto, menjelaskan bahwa metode pembelajaran dirancang berbasis kompetensi dengan porsi latihan yang lebih dominan. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai jenis dan manfaat pupuk organik, tetapi juga dibimbing secara langsung dalam proses pembuatan, fermentasi, hingga teknik aplikasi yang efektif untuk tanaman kelapa sawit.
Sementara itu, Henrizal menyampaikan bahwa peningkatan produktivitas sawit rakyat harus diimbangi dengan upaya menekan biaya produksi. Menurutnya, pemanfaatan pupuk organik menjadi salah satu solusi yang relevan untuk menghentikan usaha perkebunan di tengah-tengah merusak harga komoditas dan kenaikan biaya input pertanian.
Pelatihan yang didukung BPDP ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan perkebunan nasional yang menekankan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan kemiskinan. Penguatan kompetensi pekebun melalui transfer teknologi dari Widyaiswara Bapeltan Jambi dan para praktisi diharapkan mampu menciptakan petani sawit yang lebih mandiri, adaptif, dan berdaya saing, sehingga dapat mendukung keberlanjutan industri sawit Indonesia sebagai salah satu penopang perekonomian nasional.